Andaikata Eksekusi itu 10 Nopember
6 Nopember 2008Inilah untungnya menjadi anak jalanan sekaligus blogger. Banyak tuturan yang bisa didapatkan mulai dari sopir truk, tukang ojek, kuli bangunan, kenek biskota, tukang rokok, pejabat kelurahan, mantri puskesmas, hingga menteri sekalipun.Apakah tuturan itu berdasarkan data yang valid atau hanya rekaan alias angan-angan tukang tutur bukanlah persoalan. Yang penting asyik…! Bukankah kita perlu intermezo dalam mengarungi hidup yang Full of Pressure ini?
Tuturan ini akan sangat panjang dan menyita waktu serta benwit anda, siap-siap saja.Hari itu, hujan mengguyur Jakarta yang sesekali dibarengi gluduk… menggetarkan bumi menciutkan nyali. Aku memutuskan untuk menepi, sekadar menghindari terpaan derasnya hujan sekaligus menikmati kehangatan KopiMiks dengan berbatang-batang rokok pengusir dingin.Seseorang bertutur, bahwa dia mempunyai informasi “mahal” tentang Imam Samudera yang (konon) sebentar lagi akan dimatikan bersamaan dengan Amrozi dan Ali Ghufron. Begini;Konon, selama di penjara Imam Samudera hanya mau ditemani seorang interogrator yang menguasai paling tidak 5 bahasa. Akhirnya terpilihlah seorang petugas dari interpol, anak mantan seorang marinir yang sekarang berprofesi sebagai Sopir Truk.Nah, dari mantan marinir inilah tuturan ini berawal, kemudian dituturkan oleh seorang peneduh di warung kopi pinggir jalan.Dituturkan bahwa, Imam Samudera adalah seorang yang amat sangat pintar. Menguasai banyak bahasa, hafal al qur’an, menguasai ilmu hadits dan yang paling penting dia sangat BERANI. Dalam beberapa kali interograsi tak jarang sang Imam membentak sehingga para petugas itu gemetar.Diceritakan juga, bahwa (kalau mau) sebenarnya Imam Samudera bisa saja kabur atau hengkang dari penjara. Si Penutur, dengan bersemangat menggambarkan bagaimana sang Imam dengan tangan kosong mempermainkan jeruji penjara.Dan yang tak kalah serunya adalah cerita tentang seringnya sang Imam pergi ke Madinah untuk menunaikan Sholat Jum’at. Sembari tak lupa membawakan oleh-oleh korma bagi “teman-teman” petugas di Penjara. Wallahu a’lam.“Bagaikan Wali”, seru tukang cerita itu. “Nampaknya, Imam sangat “dekat” dengan Allah (swt) sehingga beliau tidak lagi takut pada manusia dan tidak juga cemas dengan alam benda yang fana ini. “Hanya Allah, dan kedekatannya ini memberikan karomah, yang dengannya, dengan izin Allah swt, Imam dapat melakukan hil-hil yang mustahal (jadi inget Asmuni). Singkat cerita, ternyata beliau tidak hanya pintar smart dalam ilmu dan kepahaman agama. Namun juga dalam hal teknologi. Bukankah menurut laporan media Imam selalu ditemani LepTop? (jadi bukan hanya Tukul)
Jadi gak herannlah kalo memang nanti terbukti beliau mengancam pada sebuah website. Apalah susahnya membuat website. Yang konon juga menggetarkan Ring 1 di Republik ini.Anggaplah kisah itu benar, tentu dapat kita bayangkan bagaimana para eksekutor itu menggigil dan gemetar ketika Imam Samudera berteriak, Allahu Akbar, menjelang pelatuk senapan ditarik? Jangan-jangan malah para penembak mahir itu yang pingsan atau mati.
Keyakinan atau Indoktrinisasi
Keyakinan itu tumbuh dari keinginan yang kuat untuk mengetahui, belajar dan memahami serta mengamalkan. Sedangkan Indoktrinisasi, cuci otak, menurutku hanya berlaku bagi orang-orang bego, sebab seorang yang pintar tentu akan sulit mencuci otaknya. Karena sudah ada saringan yang dilakukan oleh pemahaman ilmu yang dipelajari tadi. Jadi terlalu naif, kalau Imam Samudera adalah seorang yang otaknya sudah tercuci.
“Jika ada yang bunuh kami, Insya Allah, akan ada pembalasan…”, kata Imam Samudera kepada media.
“Apakah itu perkataan seorang yang otaknya tercuci atau sebaliknya Seorang yang memiliki Keyakinan yang Teguh? Dan, seperti banyak kita baca dari buku-buku motivasi, Barang siapa YAKIN bahwa dia sanggup memindahkan gunung, maka dia akan SANGGUP…”, tukas tukang cerita itu bersemangat.Sungguh…, aku tidak sanggup mengatakan bahwa Imam Samudera adalah seorang yang otaknya tercuci, namun dia adalah seorang yang memegang tegung Keyakinan.Islamophobia atau Orang Islam Ketakutan?.Ketakutan umat di luar islam terhadap islam itulah islamophobia. Namun, sesungguhnya yang terjadi adalah Umat Islam itu sendiri sudah ketakutan dengan Agama Islamnya yang Damai.“Sekarang mari kita analisa perlakuan tidak berimbang dari berita-berita media masa”, lanjutnya sambil menyeruput kopi hangat.“Sebut saja, Perkawinan Syaikh Puji dengan Bocah Ingusan, terus Kelahiran Anak Aa Gym dari Isteri Keduanya Teh Rini, juga Vonis untuk Habib Riziq Siddiq dan Munarman, penemuan Website Berisi Ancaman, terus lagi Penolakan FPI di Cilacap, dan belum lagi Travel Warning bagi warga dunia, khususnya Australia ditambah dengan pengesahan UU Pronografi yang diwarnai walkout oleh para Politisi PDI-Perjuangan dan Partai Damai Sejahtera… dan entah apalagi”, letih juga nampaknya dia menyebut sumber informasinya.Sementara kami para pendengar begitu terpseona hingga seharusnya dingin namun tak terasa.“Terus, Pak…?, timpal seorang bapak yang baru saja nimbrung.“Media massa di Indonesia, sepertinya latah dan menyiarkan berita-berita tersebut justeru disaat-saat menjelang eksekusi hukuman mati Imam Samudera dan kawan-kawan. Kita dikepung dari segala penjuru. Hebatnya lagi “angle” yang ditayangkan sangat kontraproduktif dari agama islam yang tenteram ini.Artinya apa? Berita-berita itu justeru membuat kita-kita umat islam ini takut dengan keislaman kita.“Coba, saya pengen tahu, mana orang Islam, ustadz-ustadz kondang, ustadztainment, para kyai, tokoh agama, organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, atau partai-partai islam yang memberikan pembelaannya, atau paling tidak simpatinya terhadap nasib para pesakitan ini.”“Mereka ini mujahid, saudara-saudara? Pejuang Islam?…”, tambahnya berapi-api.“Jadi, kesimpulannya sebagai umat islam kita sudah diserang, ditakut-takuti, diteror dengan menggunakan Agama Islam kita. Siapa sebenarnya yang terorissss…?!!“, kali ini ludahnya pun ikut menyembur saking semangatnya.Hening sejenak, sementara hujan masih belum hendak menunjukkan keredaannya. Aku menyalakan sebatang rokok lagi.“Di awal sudah tergambar bagaimana kesaktian dan karomahnya Imam Samudera ini!”, cerita bersambung kembali.“Sehingga beliau sebenarnya mampu untuk menghindar dan kabur dari penjara. Tapi kenapa tidak beliau lakukan? Inilah yang disebut dengan keyakinan, itulah Iman dalam Islam. Walaupun mampu, beliau tak hendak berlaku dan berbuat curang, Ridho Allah adalah lebih utama diatas segalanya.”Para musafir yang sedang berteduh terpesona oleh kelihaian bapak itu bertutur kata sembari menyusupkan masalah iman dan yakin dalam Islam.“Jadi saudara-saudara, saya yakin kita umat islam ini sebenarnya tidak menerima perlakuan tidak adil dan tidak berimbang ini. Saya yakin, antum semua juga begitu. Hanya saja kita berbeda, ada yang berani bersuara, ada yang hening dalam diam karena lemahnya iman. Namun yakinlah semua itu ada nilainya di sisi Allah swt.“Berhubung karena hujan sudah hampir reda, cerita dicukupkan sampai disini. Ada pertanyaan?”, katanya menutup ceritera.
“Ada…, bukan pertanyaan tapi usul. Bagaimana kalau kita usulkan ke Jaksa Agung agar, kalau toh harus tetap berlangsung, eksekusi dilaksanakan pada tanggal 10 Nopember 2008 mendatang?”, celetuk seorang peneduh.
“10 Nopember????!!!”, kamipun saling berpandangan…, sebagian sudah menghidupkan mesin motornya dan bersiap melanjutkan perjalanan.“Haa… haa… andai saja, eh ada ada saja.”, kata hatiku.
Nopember 7th, 2008 at 02:30
hari gini masih percaya cerita warung kopi

kang-kang kalo memang bisa kabur kenapa dulu ngumpet
yg gw tahu sih tiap jumat amrozi cs sholat jumat di penjara.
dah lah sadar jgn suka nyebar kabar burung
yg jelas malam ini kematian amrozi cs.
QS An Nuur
15. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.